Pandemi dan Kabar Buruk Barbarisme Pasar

Tulisan ini adalah kata pengantar untuk buku Slavoj Žižek “Pandemik! COVID-19 Mengguncang Dunia” yang terbit pada tahun 2020.

“Virus corona berjalan ke rumah kita melalui pintu depan sebagai monster yang tidak asing,” sebut Mike Davis,[1] penulis buku The Monster at Our Door: The Global Threat of Avian Flu. Mike Davis ingin mengatakan bahwa “monster yang tidak asing” itu adalah wabah yang merupakan hasil dari cara kerja sistem ekonomi kita saat ini. Itu mengapa, monster tersebut tampak akrab, mereka berjalan melalui pintu depan layaknya para tamu yang hendak singgah ke rumah kita. Alih-alih membawa kabar gembira, para tamu itu justru membawa kabar buruk bagi masa depan umat manusia. Kabar buruk yang dibawa ada dua hal, pertama bahwa cara kerja sistem ekonomi kita ini mendorong semakin dekatnya wabah ke kehidupan manusia; kedua, sistem berbasis pada dorongan akumulasi ini telah merusak kekebalan tubuh sosial (dampaknya ke kekebalan tubuh individual), sehingga menjadikan keberadaan wabah semakin berbahaya. Mari kita eksplorasi dua kabar buruk buah dari sistem ekonomi kita sekarang, yaitu kapitalisme.

Kabar Buruk Pertama

Wabah bukanlah hal baru dalam kehidupan manusia di planet ini. Sejak proses evolusi hingga mencapai homo-sapiens, wabah yang berasal dari patogen telah menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia. William McNeill[2] menyebut patogen ini sebagai mikro-parasit. Penyebutan itu karena patogen yang berukuran sangat kecil, hanya dapat hidup dengan cara berparasit pada inang, baik itu tumbuhan, hewan, atau manusia. Mikro-parasit hidup tanpa memberi manfaat pada inangnya, justru pada titik tertentu mikro-parasit dapat menginfeksi dan merusak metabolisme tubuh inang, hingga dapat berujung kematian. Tanpa inang, mikro-parasit tak akan bisa hidup.

Habitat asli dari mikro-parasit adalah di hutan-hutan lebat atau lautan yang berusia jutaan tahun dan sulit dijangkau oleh manusia. Secara alami, patogen ini berparasit pada hewan-hewan liar yang tinggal di hutan atau lautan tersebut.[3] Spesies dan jumlah hewan tempat patogen berparasit tidak terhitung jumlahnya. Pada waktu tertentu, walaupun habitat patogen sulit terjangkau oleh manusia, mikro-parasit ini tetap dimungkinkan untuk berpindah inang, dari hewan ke manusia. Salah satu patogen yang sejak zaman pra-sejarah sampai sekarang terus mengancam kehidupan manusia adalah patogen di nyamuk yang dapat menyebabkan penyakit malaria.[4] Namun seiring dengan perkembagan ilmu pengetahuan, obat untuk menyembuhkan penyakit malaria sudah ditemukan.

Saat ini, hutan-hutan rimbun semakin menipis dan hewan-hewan yang hidup di ekosistem hutan semakin punah. Hutan-hutan tersebut dibabat untuk disulap menjadi sektor dengan nilai ekonomi lebih tinggi, yaitu menjadi perkebunan skala besar, area industri pertanian, hingga pertambangan. Proses deforestasi ini berjalan masif pada era kapitalisme. Marx telah menunjukan sifat dasar sistem ekonomi ini jauh-jauh hari pada pertengahan abad ke 19,[5] sebelum kerusakan lingkungan separah saat ini. Bagi Marx, dorongan untuk menghasilkan keuntungan membuat modal bertindak layaknya vampir: terus mencari objek dan menghisap darahnya sampai tidak tersisa setetes pun.[6] Objek untuk dihisap darahnya adalah potensi kekayaan yang terdapat dalam alam dan tenaga kerja, semakin besar modal, semakin banyak alam yang dirusak dan semakin besar tenaga kerja yang dihisap.

Dorongan akumulasi menjadi hukum umum produksi kapitalisme.[7] Sistem ini memaksa para kapitalis untuk saling bertarung hingga mengarahkannya menuju konsentrasi dan sentralisasi modal pada segelintir orang.[8] Dalam pertarungan, mereka sama-sama berupaya untuk mengamankan pasokan bahan baku serta tenaga kerja, memperbesar alat produksi, dan memperluas pangsa pasar.[9] Modal yang tidak mampu berakumulasi, baik dengan cara ekstensifikasi (memperluas skala produksi) atau intensifikasi (melakukan efisiensi-efiktifitas produksi), maka kecenderungan umum yang terjadi, modal tersebut akan menuju jurang kebangkrutan. Artinya, sistem pasar telah memaksa para pemain ekonomi untuk tidak pernah merasa cukup dengan modal yang dimiliki. Seperti yang dikatakan oleh Marx, bahwa “akumulasi, akumulasi!” adalah nabi atau tuhan bagi kapitalisme.[10]

Kapitalisme, Kerusakan Lingkungan, dan Wabah

Dalam sejarah panjang planet Bumi, hanya pada era kapitalisme terjadi kerusakan ekologi secara besar-besaran.[11] Itu bukan karena adanya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, namun nalar sistem ini mensyaratkan produksi bukan berdasarkan kebutuhan manusia, akan tetapi berdasarkan upaya untuk mengeruk sebanyak mungkin keuntungan. Untuk menjalankan misi ini, antara tahun 1990 sampai 2016, bumi kehilangan hutan seluas 1,3 juta kilometer persegi.[12] Sejak 2015, kurang lebih 26 juta hektar hutan rusak setiap tahunnya atau setara luas negara Inggris.[13] Kerusakan ekologi ini membawa efek yang sangat mengerikan pada perubahan iklim dan punahnya satwa liar. Akibat dari kerusakan hutan turut memusnahkan 60% mamalia, burung, ikan, dan reptil sejak tahun 1970.[14] Penghancuran hutan dan ekosistem alami lainnya yang terus berlangsung, diperkirakan akan membuat sekitar satu juta spesies terancam punah.[15]

Rusaknya ekosistem hutan yang merupakan tempat hidup jaringan organisme yang terdiri dari jutaan jenis spesies—hewan liar, menjadikan patogen kehilangan habitat aslinya. Komersialisasi tidak hanya menggerakan perampokan hutan, tetapi turut memburu hewan liar untuk diperdagangkan.[16] Kondisi itu yang membawa kabar buruk pertama, bahwa habitat patogen atau mikro-parasit menjadi semakin dekat dengan manusia. Kita ambil contoh munculnya wabah akibat virus Nipah di Asia Tenggara:

Pada tahun 1997 saat hutan di Kalimantan, Indonesia di bakar untuk membuka lahan perkebunan, pohon-pohon penghasil buah banyak yang mati dan yang masih hidup tidak mampu menghasilkan buah. Hilangnya tempat penghidupan memaksa kelelawar buah terbang ke tempat lain untuk mencari makan. Kelelawar akhirnya menemukan makanan di kebun buah-buahan perbatasan Malaysia-Indonesia. Tidak lama berselang ditemukan babi peliharaan di sekitar pohon jatuh sakit—diperkirakan karena makan buah yang jatuh setelah digigit kelelawar—hal yang sama dialami oleh para petani babi lokal. Pada tahun 1999, 265 orang menderita peradangan otak yang parah, dan 105 orang meninggal. Ini adalah untuk pertamakalinya diketahui kemunculan virus Nipah pada manusia, yang sejak saat itu menyebabkan serangkaian wabah berulang di Asia Tenggara.[17]

Wabah yang disebabkan oleh patogen pada hewan yang berpindah dan berparasit ke manusia (disebut zoonosis) mewakili tiga per empat penyakit menular yang ada di dunia.[18] Sebelum virus corona, sudah bermunculan jenis virus baru atau bentuk mutasi baru dari patogen yang ada pada hewan liar. Contohnya adalah wabah Flu Spanyol pada tahun 1918 yang berasal dari patogen di unggas dan menewaskan 50 juta orang; wabah Ebola pada tahun 1976 yang berasal dari patogen di kelelawar buah; ada wabah SARS pada tahun 2002 yang berasal dari patogen di kelelawar; wabah H1N1 yang berasal dari patogen di babi yang mulai muncul pada tahun 2009; pada tahun 2012 muncul wabah MERS yang berasal dari patogen di kelelawar.

Cepat atau lambat, dengan sistem produksi yang terus merusak ruang hidup patogen, maka ancaman wabah yang lebih besar akan terus menghantui kehidupan manusia. Kemunculan wabah ini bukan hal yang tetiba terjadi, akan tetapi akibat dari pola hubungan antara manusia dengan alam semesta non-manusia (karena manusia bagian dari alam semesta) yang semakin memberi ruang bagi patogen untuk berparasit pada tubuh manusia.

Buku-buku terbitan Penerbit Independen (PIN) dapat dipesan DI SINI

Kabar Buruk ke Dua

Kabar buruk yang kedua, datang dari apa yang disebut sebagai makro-parasit. Jika mikro-parasit adalah patogen yang hanya dapat hidup dengan berparasit pada inang, makro-parasit adalah kelas penguasa (pengusaha dan politisi) yang hanya dapat hidup dengan mengambil hasil kerja (berparasit) dari orang lain (inang). Di era kapitalisme, makro-parasit menguasai ruang-ruang pengambilan keputusan. Kepercayaan bahwa kemajuan suatu negara diukur oleh pertumbuhan ekonomi menyebabkan kepentingan ekonomi lebih di kedepankan dibanding keselamatan warga. Hal itu yang membuat tindakan makro-parasit telah merapuhkan kekebalan tubuh sosial untuk mengatasi wabah.

Sejak era neoliberalisme, anggaran untuk publik banyak yang dipotong, sehingga jaminan sosial dan jaminan kesehatan menjadi semakin sedikit dan dengan cakupan yang kecil.[19] Pandemi COVID-19 memberi kita fakta bahwa ketiadaan atau kecilnya jaminan sosial dan jaminan kesehatan telah memaksa para pekerja informal—terutama di negara Bumi Selatan seperti Indonesia—tetap bekerja di tengah pandemi, sehingga semakin membuka peluang patogen berparasit ke tubuh mereka. Selain itu, ketiadaan perlindungan sosial juga mengurangi kekebalan tubuh individu, sehingga sistem imun mereka rentan untuk dikalahkan oleh patogen.

Kabar buruk kedua ini yang diulas secara dalam oleh Slavoj Žižek dalam bukunya “Pandemik! COVID-19 Mengguncang Dunia” (Žižek juga mengulas sekilas kabar buruk pertama). Dalam buku ini, Žižek membongkar bangunan ideologis kelas penguasa dan menelanjangi watak mereka. Dengan data, metafora, dan anekdot yang kaya, menjadikan pembaca dibuat geleng-geleng kepala ketika membaca buku ini. Žižek juga menampilkan berbagai paradoks tentang pandemi COVID-19 yang seringkali tidak kita pikirkan dan duga.

Panik! (kata gubahan dari Pandemik!), menjadi judul yang tepat untuk menggambarkan respon makro-parasit terhadap pandemi. Hampir semua corong kekuasaan berseru “jangan panik” atau “COVID-19 tidak berbahaya.” Kita oleh kelas penguasa berupaya diyakinkan untuk melakukan aktivitas seperti biasa, dan bahkan didorong untuk bertindak semakin konsumtif. Pada awalnya sebagian besar kelas penguasa di berbagai negara bahkan mengingkari ancaman pandemi ini. Upaya serius untuk menangani pandemi COVID-19 dinilai akan memicu kepanikan dan menurunkan target petumbuhan ekonomi. Namun, ancaman wabah ini benar-benar nyata dibanding ukuran pertumbuhan ekonomi. Kepanikan akhirnya meledak hampir di setiap tempat dan memicu resesi, anjloknya pasar saham (kapital fiktif), dan tergerusnya value berbagai perusahaan. Pada kenyataannya kelas penguasa sangat panik menghadapi pandemi ini.

Žižek menyebut, kepanikan bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi ancaman nyata. “Ketika kita bereaksi dengan panik, kita tidak menganggap ancaman itu serius—sebaliknya, kita meremehkannya” sebut Žižek. Betapa konyolnya menghadapi pandemi ini, pemerintah Indonesia dengan panik justru mengolontorkan 72 Miliar untuk influencers. Itu sama ketika Žižek mencontohkan tindakan warga Inggris yang berebut tisu toilet untuk bertahan hidup di tengah pandemi COVID-19.

Hampir di semua bagian buku ini, Žižek menunjukan tentang ketidakmampuan sistem kekuasaan (bukan individu) dalam menangani pandemi. Bagi Žižek, pandemi COVID-19 telah memberi dorongan baru untuk menuju ekonomi alternatif, yaitu Komunisme. Itu karena sistem pasar menunjukan wajah barbarismenya melalui dua kabar buruk yang dibuatnya, sedangkan ideologi ultra-nasionalis terbukti gagal dalam menyelesaikan pandemi. Sehingga, pilihannya hanya dua, “barbarisme atau (eko)sosialisme.”

Yogyakarta, 28 April 2020


[1] Mike Davis, “Mike Davis on Coronavirus: “In a Plague Year”, Jacobin Magazine (14 Maret 2020).

[2] William H. McNeill, Plagues and Peoples (New York: Anchor, 1976).

[3] Rob Wallace, Big Farms Make Big Flu: Dispatches on Infectious Disease, Agribusiness, and the Nature of Science (New York: Monthly Review Press, 2016).

[4] Lihat Bab I dalam William H. McNeill, Plagues and Peoples (New York: Anchor, 1976).

[5] Karl Marx, Capital, vol. 1 (New York: International Publishers, 1967).

[6] Metafora “vampir” digunakan Marx dalam tiga jilid buku “Capital” yang dituliskannya.

[7] Penjelasan lebih detail dapat melihat Ellen Meiksins Wood, The Origin of Capitalism: A Longer View (London: Verso, 2017).

[8] Kecenderungan monopoli dalam kapitalisme dijelaskan dengan baik oleh Lenin, Imperialism: The Highest Stage of Capitalism (New York: International Publishers, 1969).

[9] Untuk mencapai hal tersebut, menuntut para pemilik modal untuk menguasai pusat pengambilan keputusan di pemerintahan. Selengkapnya lihat E. M. Wood, Democracy Against Capitalism: Renewing Historical Materialism (London: Verso, 2016).

[10] Karl Marx, Capital, vol. 1 (New York: International Publishers, 1967).

[11] Pembahasan lebih detail lihat Fred Magdoff dan John Bellamy Foster, What Every Environmentalist Needs to Know About Capitalism: A Citizen’s Guide to Capitalism and the Environment (New York: Monthly Review Press, 2011)

[12] Lihat data dari Bank Dunia dalam “Five forest figures for the International Day of Forests”, Word Bank Blogs (21 Maret 2016).

[13] The Guardian, “World losing area of forest the size of the UK each year, report finds” (12 September 2019).

[14] The Guardian, “Humanity has wiped out 60% of animal populations since 1970, report finds” (30 Oktober 2018).

[15] Jessica Corbett, “In Just One Decade, Corporations Destroyed 50 Million Hectares of Forest—An Area the Size of Spain”, Common Dream (11 Juni 2019)

[16] Emma G. E. Brooks, Scott I. Robertson, dan Diana J. Bell, “The Conservation Impact of Commercial Wildlife Farming of Porcupines in Vietnam,” Biological Conservation 143, no. 11 (2010): 2808-14.

[17] Katarina Zimmer, “Deforestation is leading to more infectious diseases in humans”, National Geographic (22 November 2019).

[18] Ibrahim Al-Marashi, “Black plague, Spanish flu, smallpox: All hold lessons for coronavirus”, Bulletin of Atomic Scientists (13 Maret 2020).

[19] Lihat Thomas Piketty, Capital in the Tweenty-First Century (Cambridge: Belknap Press, 2014).

________________
Arif Novianto
Editor di Penerbit Independen (PIN) dan Peneliti Muda di Institute of Governance and Public Affairs (IGPA), MAP Fisipol UGM.
Penulis menekuni bidang kajian tentang ekososialisme, gerakan sosial, dan pekerja digital.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *