Barbarisme atau Komunisme: Hasil Akhir Pelayaran di Tengah Pandemi

Bayangkan anda seorang kapten kapal bajak laut yang tengah diburu badai angin. Anda memergoki awak kapal anda bergelut mempreteli badan kapal demi membuat perahu masing-masing. Anda tahu betul, ulah tangan mereka membikin badan kapal yang anda dan awak kapal kendarai bocor di sana-sini. Anda pun tahu, perahu-perahu kecil yang mereka bangun sedemikian rupa tak cukup tangguh berhadapan dengan badai yang akan datang dari segala arah mata angin.

***

Siapa di antara handai tolan yang tidak bergetar tatkala mendengar nama filsuf paling produktif, paling terkenal, dan dilabeli paling berbahaya di dunia barat dekade ini? Žižek berfilsafat dengan memadukan antara pendekatan Marxis, metafisika Hegelian, dan psikoanalisis Lacanian. Tidaklah mengherankan kita sering menggeleng saat membaca artikelnya yang kaya data, analogi, dan metafora. Dan kali ini, Žižek berhasil merekam rentetan filosofis fenomena pandemi Covid-19 dengan pembacaan yang kerap tak terduga.

Pada mulanya, buku tipis ini berasal dari kolom-kolom Slavoj Žižek di mingguan rt.com (dulu dikenal sebagai Russia Today) yang kemudian dikumpulkan menjadi buku bertajuk Pandemic! Covid-19 Shakes the World. Penggunaan kata ‘Pandemic’ (atau pandemik) pada judul menjadi daya tarik tersendiri sebab ia bisa dipelintir menjadi kata ‘Panik’ dengan mencungkil ‘dem’ darinya.

Panik! … kepanikan bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi ancaman nyata. Ketika kita bereaksi dengan panik, kita tak menganggap ancaman itu serius. Sebaliknya, kita meremehkannya. (Hal. 84)

Hampir seluruh instrumen kekuasaan berseru: Jangan panik! Namun, kita memperoleh segala data yang memicu kepanikan. Kepanikan akhirnya meledak hampir di setiap tempat, tidak bisa tidak. Alih-alih seperti masyarakat Inggris yang berlomba menimbun tisu toilet, berebut masker jadi bentuk kekonyolan lain di Indonesia. Di toko-toko, seluruhnya ludes, seolah-olah dengan memiliki timbunan tisu toilet dan masker, hidup ini kian tertanggungkan.

Dalam panik, individu-individu bergerak secepat kilat namun irasional demi mengamankan nyawa masing-masing. Bagi Žižek, kepanikan bukan cara yang tepat untuk menghadapi ancaman nyata. Ketika kita bereaksi dengan panik, kita menganggap ancaman itu remah belaka. Kita meremehkannya.

Žižek pun berujar: sisi lain dari kepanikan berlebih adalah tidak adanya kepanikan sama sekali di saat kepanikan itu seluruhnya dibenarkan. Fase inilah yang terjadi sekarang. Meskipun secara rasio kita membenarkan bahaya virus corona, entah bagaimana kita menganggapnya tidak serius dan malas bertindak—alih-alih normal baru. Rasional tetapi tidak serius atau irasional tetapi serius; keduanya sama-sama meremehkan. Sehingga kesimpulannya: tetap tenang dan panik!

Kesimpulan ini bukan berarti anda melakukan suatu aib. Secara terbuka, anda menyerukan berdamai dengan virus, tetapi diam-diam mengamankan diri sendiri. Seperti para tokoh papan atas penyangkal perubahan iklim yang sudah membangun bungker di Pegunungan Rocky.

Barbarisme atau Komunisme! Seperti kata pepatah; Dalam krisis, kita semua Sosialis. (Hal. 106)

Pada suatu sore anda bersikeras tidak ingin melakukan kebaikan, tetapi fakta berkata bahwa anda telah mengerjakannya. Dari sini, barang tentu terselipkan beberapa motif yang pada akhirnya mengubah niat dan sikap anda. Entah sebab diri sendiri atau ancaman dari luar, hingga mau tidak mau kebaikan harus dilakukan.

Virus corona menghadirkan pilihan itu. Namun tidak hanya pada skala individual, lebih jauh lagi berupa nasional dan internasional. Hal-hal yang tak lazim dilakukan sebelum pandemi, sekarang mata kita menyaksikannya. Perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu segera menawarkan bantuan dan koordinasi kepada otoritas Palestina. Bukan karena kebaikan dan pertimbangan kemanusiaan, melainkan fakta sederhana bahwa tidak mungkin mencegah kontak orang Israel dengan Palestina—jika salah satu dari mereka terpapar, maka yang lain terinfeksi pula.

Sama halnya Uncle Sam State, Donald Trump mencoba melakukan pembelian hak eksklusif perusahaan biofarmasi CureVac dalam upaya mendapat vaksin yang efektif. Pada saat yang sama, ia terpaksa mengumumkan proposal sarat komunisme. Proposal itu memungkinkan pemerintah mengelola industri swasta demi mengatasi pandemi. Dari sini dapatkah kita membayangkan, pengambilalihan sektor swasta oleh nasional dilakukan oleh negara maha-kapitalis sebelum pandemi?

Žižek sedang menawarkan mimpi kepagiannya, yang bertajuk komunisme. Tetapi serpihan nyata potret di atas bukanlah visi komunisme utopis yang berbasis pada kolektivisme dan peradaban; itu cuma komunisme perang sebab ancaman kematian yang berbasis pada privatisasi dan barbarisme!

Komunisme yang ia tawarkan lain pula dengan logika otoriter komunisme lama yang digalakkan Cina untuk memukul mundur pandemi. Meskipun fakta tangan besi Cina bekerja lebih berhasil ketimbang yang terjadi di Amerika atau Italia, Cina tetap menunjukkan kebiadabannya; seperti pengawasan digital permanen, tertutupnya informasi, dan lingkaran setan ketidakpercayaan.

Oleh karena itu, hemat Žižek, pada skala global; komunisme; koordinasi produksi dan distribusi di luar koordinat pasar harus dipikirkan—dalam istilahnya ‘menemukan kembali komunisme’. Solidaritas dan kerja sama global berbasis kepercayaan rakyat sangat diperlukan dalam kelangsungan lingkungan hidup umat manusia, seperti itulah kiranya.

Sepintas, gagasannya memang utopis walau Žižek mengakui dirinya bukan utopian. Tawaran Žižek terbilang sangat radikal—bukan hanya solusi keluar dari virus corona, melainkan virus-virus yang bermutasi di masa depan akibat krisis ekologi global yang berkepanjangan dan brutal.

Optimisme Žižek terlihat sebagaimana ia mengatakan tidak ada jalan kembali ke keadaan normal. ‘Normal’ dalam bentuk baru harus dibangun di atas reruntuhan kehidupan lama, atau kita akan terjebak dalam barbarisme—tindakan bertahan hidup yang kejam ditegakkan dengan penyesalan bahkan simpati, tetapi dilegitimasi oleh pendapat para ahli—yang tanda-tandanya mulai teraba. Sehingga, pilihannya hanya barbarisme atau komunisme, AS SIMPLE AS THAT!

Sekarang, Kita Berada di Kapal yang Sama! … epidemi yang sedang berlangsung saat ini… memiliki makna lebih dalam: Hukuman kejam tapi cukup adil atas kemanusiaan karena telah mengeksploitasi habis-habisan bentuk-bentuk kehidupan lain di Bumi. (Hal. 30)

Sekarang, bayangkan kembali anda seorang kapten kapal bajak laut. Tetapi, kali ini, awak kapal anda tidak mencongkeli badan kapal dan bersedia membuka dialog dengan anda. Seperti dalam sinema 12 Angry Men, anda dan awak kapal ingin mencapai konsensus secara intersubjektif dengan pendekatan Habermas, demi selamat dari badai angin yang diprediksi datang dari segala arah.

Hal yang perlu ditekankan di sini adalah fakta bahwa anda sekarang berada dalam satu kapal yang sama. Kemudian, anda harus memenangkan argumen bahwa bertahan di satu kapal besar yang kokoh memiliki potensi selamat lebih baik ketimbang mesti berpencar mengarungi samudra sendirian dengan perahu kecil masing-masing.

Buku ini menerangkan bahwa apa yang mendominasi saat ini adalah egoisme nasional—sikap ‘setiap negara untuk negaranya sendiri’. Seperti adanya larangan-larangan nasional untuk ekspor produk-produk prioritas seperti pasokan medis, atau melepaskannya dengan harga amat tinggi. Hal ini memaksa negara-negara terbelakang di tengah kekurangan lokal mengaplikasikan pendekatan primitif sebagai pencegahan.

Melihat anomali di tengah ketidakpedulian global, negara komunis seperti Kuba justru masif menggalakkan misi kemanusiaan. Meski bukan negara maju, Kuba memiliki pelayanan kesehatan yang cukup baik. Kuba mengirimkan ratusan tenaga medisnya ke beberapa negara terdampak virus corona seperti Italia dan Afrika Selatan. Meski Žižek nyaris tidak menyenggol Kuba dalam tulisannya, penulis hanya sedikit berasumsi bahwa tindakan Kuba adalah potret kecil bagaimana solidaritas global dikerahkan, dan semestinya Kuba tak sendirian.

Inilah kenyataan yang harus diterjemahkan ke dalam politik. Sudah saatnya menyudahi anggapan Amerikalah (Cina atau siapa pun) yang nomor satu. Sudah saatnya dunia berhenti memperdebatkan klaim ‘siapakah negara adidaya selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya?’ Sudah saatnya dunia terikat menjadi satu kesatuan yang setara dalam sumber daya, di atas kapal yang sama.

Masih terbuka kesempatan untuk menepis badai angin, mengantarkan kapal anda menuju pulau penuh harapan seperti yang telah digambarkan Žižek. Hanya butuh solidaritas dan rasa saling percaya antara anda dengan semua awak kapal untuk mencapainya. Atau, kapitalisme barbar baru akan menang; orang-orang kaya akan bernapas lega, sementara mereka yang lemah dan lapuk dibiarkan mati.

Judul: Pandemik! Covid-19 Mengguncang Dunia
Penulis: Slavoj Žižek
Penerjemah: Khoiril Maqin
Penerbit: Penerbit Independen
Tebal: xii + 137 halaman
Tahun Terbit: 2020

___________________
Ahmad Zakia AD
Penulis dan Desain Grafis. Salah satu pengelola laman pmiigusdur(.)com

Tulisan ini sebelumnya dimuat di media Baca Bukumu, dimuat ulang untuk tujuan penyebarluasan gagasan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *