Bagaimana Kapitalisme Mengubah Perempuan Menjadi Penyihir?

Judul Buku: Perempuan dan Perburuan Penyihir
Penulis: Silvia Federici
Penerjemah: Linda Sudiono dan Nolinia Zega
Penerbit: Penerbit Independen
Tebal Buku: 174 halaman
Tahun Terbit: 2020

Buku karya Silvia Federici, seorang feminis sosialis yang berasal dari Italia, adalah bacaan wajib untuk memahami politik gender pada tahun 2019 ini. Kalimat pembuka dalam sebuah pamfletnya yang terbit pada tahun 1975, “Upah terhadap Pekerjaan Rumah Tangga”, Federici menyatakan bahwa “Mereka mengatakan itu cinta. Kami mengatakan ini adalah pekerjaan yang tidak dibayar”. Kalimat ini seketika akan tertanam dalam pikiran dan mengubah seluruh konsep keluarga yang telah terkonstruksi selama ini. Caliban and the Witch, karya agungnya pada tahun 1998 tentang pengadilan penyihir sebagai alat bagi perkembangan awal kapitalisme akan meruntuhkan semua pemahaman yang diyakini selama ini dan merekonstruksinya dengan kebenaran yang selama ini ditutupi.

Karya Federici lebih dari relevan untuk menganalisis situasi saat ini. Di sepanjang pekerjaannya, ia melacak bagaimana kapitalisme memengaruhi dan menjangkiti pemahaman kita tentang ruang “privat” yang feminin sebagai pekerjaan rumah tangga dan reproduksi yang tidak berbayar; dia menggali keintiman, mengungkap secara jelas semua lapisan beracun tembok hingga atap rumah, sampai pada fondasinya yang eksploitatif. Karyanya sangat penting untuk membongkar rahasia saat ini, ketika kapitalisme dan patriarki berjejalin untuk menghasilkan dampak turunan yang semakin tidak masuk akal: agen adopsi perampas yang memaksa perempuan untuk menyerahkan bayi mereka; biaya perawatan anak yang terlalu tinggi menyebabkan para ibu yang bekerja sendiri tidak sanggup mengusahakan pembiayaannya; seluruh industri di mana impunitas atas peluang untuk melecehkan perempuan dipandang sebagai suatu kegembiraan bagi posisi laki-laki yang superior. Dan, syukurlah, kita sepertinya menyadari itu; separuh dari perempuan kiri muda yang menulis hari ini membicarakan tentang pekerjaan Federici.

Dalam karya terbarunya, “Perempuan dan Perburuan Penyihir”, Federici memperbarui dan memperluas tesis inti dari bukunya Caliban and the Witch, di mana dia berpendapat bahwa “perburuan penyihir” adalah cara untuk mengasingkan perempuan dari alat reproduksinya. Pada masa transisi feodalisme ke kapitalisme, menurut Federici, ada dorongan revolusioner dalam menerobos komunalisme. Kelompok-kelompok komunal sering kali menganut “kebebasan cinta” dan egalitarianisme seksual—laki-laki dan perempuan yang belum menikah dapat tinggal bersama, dan bahkan beberapa komune hanya berisi perempuan—dan bahkan gereja Katolik hanya menghukum aborsi dengan penebusan dosa beberapa tahun.

Untuk para budak yang menggarap tanah dengan imbalan bagi hasil panen, rumah adalah tempat bekerja, tempat produksi subsistensi berlangsung. Dalam hal ini, laki-laki dan perempuan bekerja bersama, menanam kentang bersama. Tetapi dalam kapitalisme, sistem pekerjaan upahan mengharuskan manusia untuk bekerja di luar rumah sepanjang waktu, yang berarti orang lain harus berada di rumah untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Peran gender, dan penaklukan perempuan, menjadi hal baru yang diperlukan.

Elite-elite pada masa awal feodalisme di perdesaan Eropa menerapkan kebijakan pemagaran tanah publik, menjadikannya privat serta dikontrol secara individual, dan patriarki “memagari” perempuan dalam pernikahan “privat”, memaksakan mereka untuk tunduk pada perbudakan reproduksi dalam melahirkan anak-anak bagi laki-laki dan menjalankan kerja emosional dalam merawat setiap kebutuhan laki-laki. Kehamilan dan persalinan, yang dulu merupakan fungsi alami, menjadi pekerjaan yang dilakukan perempuan untuk atasan (suami) mereka―artinya, melahirkan menjadi pekerjaan yang teralienasi. “Penyihir,” menurut teks perburuan penyihir seperti Malleus Maleficarum, adalah perempuan yang mempunyai kendali atas persalinan dan kehamilan perempuan lainnya: bidan, aborsionis, atau herbalis yang menyediakan kontrasepsi. Mereka dibunuh untuk memperkuat kekuasaan patriarki dan menciptakan penaklukan kelas pekerja domestik yang diperlukan untuk kapitalisme.

“Tubuh perempuan dalam masyarakat kapitalis telah menjadi pabrik bagi laki-laki pekerja upahan” tulis Federici di Caliban, hal itu menjadi “landasan utama bagi eksploitasi, sekaligus bagi perlawanan mereka.”

Keelokkan argumen ini, jalinan rapi yang menghubungkan distingsi publik dan privat, sangat menggetarkan hati. Bahkan terkadang argumentasi yang disampaikan Federici lebih masuk akal daripada lainnya. Pada bagian ini, ia menjelaskan bagaimana seksualitas—yang pernah digambarkan sebagai sesuatu yang mengandung sifat iblis, jahat, dan mengancam “untuk melindungi kekompakan Gereja sebagai klan patriarkal, maskulin”—menjadi bagian yang ditaklukkan oleh kapitalisme: “Setelah iblis dalam seksualitas perempuan berhasil diusir, mengingkari potensi subversifnya melalui kebijakan perburuan penyihir, seksualitas perempuan dipulihkan kembali dalam konteks matrimonial dan untuk tujuan prokreasi… Dalam kapitalisme, seks dapat eksis tetapi hanya sebagai tenaga produktif yang melayani prokreasi dan regenerasi pekerja upahan/laki-laki dan sebagai sarana penentraman sosial dan kompensasi atas kesengsaraan eksistensi sehari-hari.”

Dengan kata lain: Seorang laki-laki dapat bercinta dengan istrinya untuk menghasilkan seorang putra dan pewaris, dan dia dapat bercinta dengan seorang pekerja seks untuk pelampiasan nafsu, emosi dan/atau energi, tetapi hal ini berguna baginya untuk membuat pekerja seks tetap dikriminalisasi dan istri tetap bergantung; keduanya pekerja, dan dia, sebagai bos, tidak ingin mereka datang dengan membawa tuntutan. Lihat: kisah Stormy Daniels-Donald Trump, atau reaksi panik laki-laki terhadap #MeToo ketika perlakuan yang mereka perlakukan sebagai barang mewah mulai berbicara.

Kesenangan yang dinikmati para Penyihir tidak bertahan lama, ibarat kilatan cahaya kecil yang menyembur sekilas. Federici mengacu dan menganalisi kembali argumentasinya yang terkenal, memperluas, memperbarui, dan menemukan sudut pandang baru di dalamnya. Beberapa esainya berhasil disempurnakan dengan baik. Penjelajahannya terhadap gosip dan kriminalisasinya adalah hal yang menonjol; dia menelusuri sejarah singkat dan mencekam tentang bagaimana “sebuah istilah yang secara umum mengindikasikan seorang teman dekat perempuan berubah menjadi satu isyarat yang menandakan omong kosong para pengolok-olok,” dan bagaimana tindakan perempuan berbicara satu sama lain—sering tentang laki-laki, dan dengan cara yang mungkin tidak disukai oleh laki-laki—menjadi alasan mereka dihukum dengan penyiksaan dan penghinaan publik, seperti dalam kasus penggunaan “Dedak.” Alat penyiksaan ini, yang digunakan sampai awal tahun 1800-an, adalah topeng dengan sedikit (kadang-kadang dilapisi dengan paku) yang menghalangi seorang perempuan menggerakkan lidahnya. Gosip, seperti penyihir, dikriminalisasi karena melekat pada perempuan. Federici selalu tepat pada waktunya: “jaringan bisikan” hari ini, di mana perempuan dapat berbagi identitas pelaku kekerasan dan pelecehan secara rahasia untuk menjaga keamanan satu sama lain, adalah bagian dari bentuk gossip juga. Dan, seperti yang dituduhkan pemerkosa Stephen Elliott terhadap Moira Donegan[1] dan daftar Shitty Media Men membuktikan, banyak laki-laki masih ingin “gosip” diseret ke pengadilan.

Akan tetapi beberapa argumentasi pada essainya yang lain masih perlu diperdebatkan. Federici menghabiskan banyak waktu menganalisis perburuan penyihir Afrika kontemporer dalam konteks globalisme. Meskipun dia sangat menaruh perhatian pada politik Afrika, saya berharap Federici dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi perbedaan antara Eropa Abad Pertengahan dan Afrika saat ini.

Buku Silvia Federici “Perempuan dan Perburuan Penyihir” dapat dibeli dengan mengklik link ini

Konsep “penyihir,” atau pengguna sihir jahat, bervariasi menurut budaya. Seorang laki-laki Ghana, seorang perempuan Navajo dan seorang pengkhotbah Evangelikal kulit putih di Louisiana akan mendefinisikan “sihir” secara berbeda. Federici tampaknya sering mengirimkan dan menerapkan contoh-contoh abad pertengahan Eropa pada konteks Afrika—di mana para penyihir adalah perempuan yang konon memperoleh kekuatan dengan berhubungan seksual dengan Setan dan memakan bayi, dan yang ancamannya secara inheren terkait dengan “penyimpangan,” seksualitas perempuan independen—yang dinilai kurang sesuai dalam konteks budaya.

Saya tidak meragukan Federici ketika dia menyatakan bahwa pembunuhan penyihir Afrika berasal dari sumber yang sama dengan kepanikan pada abad pertengahan: kapitalisme, gelombang kristenisasi fundamentalis, kebutuhan untuk merebut tanah dengan menyingkirkan pemiliknya. Tetapi ada beberapa perbedaan penting yang luput dari analisis Federici. Di beberapa bagian Afrika Tengah dan Barat, prototipe penyihir tertuduh bukanlah seorang perempuan tua (seperti di Eropa) tetapi seorang anak, seringkali anak dari orang tua yang baru saja bercerai atau janda. Ada hal yang sangat penting untuk dibahas tentang bagaimana kapitalisme dengan kejam melenyapkan anak-anak yang membebani sumber daya komunitas mereka. Dengan memperlakukan “perburuan penyihir” sebagai satu fenomena lintas budaya yang seragam, kesempatan untuk adanya suatu pembahasan yang melampaui prototipe perempuan tua menjadi hilang.

Ini adalah perdebatan dalam sebuah buku yang saya kira akan disukai pembaca. Membaca Federici bukan berarti harus menyetujui semua argumentasinya—sebaliknya membaca Federici adalah membiarkannya membersihkan debu dan sarang laba-laba dari pikiran Anda yang usang, membuka jalan pemikiran baru dan memicu keingintahuan baru. Membuka buku ini secara acak akan selalu membuat anda menemukan sebuah kalimat yang memungkinkan hal-hal baru tersebut terjadi, seperti ketika Federici menjelaskan mengapa penyihir pada umumnya sudah tua: “Perempuan yang lebih tua [tidak bisa] lagi menyediakan anak-anak atau layanan seksual dan, oleh karena itu, kehadiran perempuan-perempuan ini akan menghambat penciptaan kekayaan”; atau menghubungkan para penyihir dengan pemberontakan sejarah lainnya: “penggambaran tantangan keduniawian perempuan sebagai konspirasi Iblis bagi struktur kekuasaan adalah fenomena yang telah dimainkan berulang-ulang dalam sejarah hingga saat ini”. Setiap kalimat dalam buku ini akan membuka pintu bagi perkenalan pada pekerjaannya yang lain. Ini bukan buku Federici yang tepat untuk mengakhiri perdebatan ini, tetapi buku ini mungkin dapat menjadi pilihan yang tepat ketika anda siap untuk memulai.


[1]  Sebuah kasus gugatan dari Stephen Elliott, seorang penulis yang berbasis di New Orleans, terhadap Moira Donegan, pencetus Shitty Media Men di google spreadsheet, sebuah fitur Google yang memungkinkan sekelompok orang melakukan penyuntingan materi secara kolektif. Shitty Media Men menampilkan daftar 70 laki-laki di industri media yang diduga melakukan pelecehan seksual. Fitur ini disirkulasikan melalui email dengan tautan Daftar terduga pelaku pelecehan seksual tanpa perlindungan kata sandi untuk mendorong perempuan mempublikasikan kasus pelecehan seksual yang dialaminya atau diduga dialami oleh orang lain secara anonim. Stephen Elliot menggugat Moira Donegan dengan tuduhan pencemaran nama baik dan penyebaran tekanan emosional. Konteks kasus ini dapat memperjelas makna gossip yang sesungguhnya, yaitu bentuk solidaritas dan/ atau pertemanan antar perempuan. Kriminalisasi terhadap gossip menyebabkan terjadinya degradasi makna dan pembubuhan stigma negatif atas makna gossip menjadi pembicaraan antar perempuan yang tidak berguna, tercela, dan membahayakan (penerj).

_____________
Sady Doyle
Penulis buku Trainwreck: The Women We Love to Hate, Mock, and Fear… and Why (Melville House, 2016). Penulis dapat dihubungi melalui akun Twitternya: @sadydoyle
Esai review buku diterjemahkan oleh Linda Sudiono, staff pengajar di Universitas Atmajaya Yogyakarta dan salah satu penerjemah buku Silvia Federici “Perempuan dan Perburuan Penyihir.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *